Tampilkan postingan dengan label experience. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label experience. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 November 2010

Hati - hati depan Stasiun Balapan

Pagi itu suasana sekitar stasiun Balapan Solo lumayan panas. Setelah lebih dari 11 jam berjibaku didalam kereta dari Jakarta, badan lumayan pegel, capek dan butuh kesegaran.
Awalnya pengen sejenak bersandar di musholla di dalam stasiun, tapi ternyata mushollanya dikunci.
Lho, bukannya itu adalah tempat ibadah yang seharusnya buka 24 jam. Kok Cuma buka pas waktu sholat doang?
Itulah salah satu fenomena di indonesia. Mungkin karena khawtir barang berharga dalam masjid/musholla dicuri, atau takut kotor, atau takut dibuat tidur orang lain.
Tru apa gunanya memperindah masjid kalau ujung-ujungnya masjidnya “terkunci”??
Wallahu alam.
Udahlah, ga masalah. Lebih baik cari masjid diluar stasiun aja.

“ojek mas....”
“taksi pak..!”
“becak mas, mau kemana.....”
Tawaran dari tukang ojek, taksi, dan becak menyambutku keluar dari lorong stasiun. Berebut mencuri perhatianku.
Bagaikan artis disambut meriah saat keluar dari gedung pertunjukan.

“terima kasih pak.” Jawabku singkat.
Karena memang sebelumnya sudah telepon teman untuk menjemputku.
Karena aku juga tidak tahu alamat tempat yang akan kutuju.

Kulayangkan pandangku menusuri jalanan,
Perut memberi sinyal yang langsung ditangkap otak. Lalu diteruskan ke syaraf mata.
Matapun aktif mencari tempat yang bisa memenuhi hasrat perut.
Dan pilihan itu jatuh di warung soto kuali. Tepat di depan stasiun Balapan.
Alhamdulillah,
Cukup 8 ribu, soto satu mangkok, teh hangat plus 2 tempe goreng.
Dan perutpun sudah selesai berdemonstrasi. Setidaknya rasa lapar bisa diobati sampai nanti sampai ditempat walimah teman. “kan disana nati juga ada hidangan yang bisa di makan.” he..he...

What next???
Karena nanti mau ke kondangan temen, maka yang harus dilakukan adalah MANDI dan bersih-bersih.

”Bu, masjid ingkang celak mriki pundi ??? tanyaku dengan bahasa jawa yang sudah kususun sebelumnya.
”Oo, dalan niki lurus, terus menggok kiwo. Lha mengke wonten masjid” jawab ibu penjual soto.
”Matur Suwun Bu!” jawabku dengan senyum sok akrab.

Oke, Masjid I’m coming...
Memang, masjid menjadi tempat favorit ketika perjalanan. Tempat singgah paling nyaman dikala tersesat di daerah antah berantah. Tempat yang selalu berkenan menerima tamu setiap saat. Tempat yang menentramkan dan membuat hati nyaman. Itulah Masjid.

Ternyata jaraknya lumayan juga. Jalannyapun banyak cabangnya.
”yang mana ni jalannya” gumamku.

Sifat sok tahu pun muncul.
”mungkin belok sini”
Tapi, Kucari-cari kok ga ada bangunan yang mirip masjid. Dimana ya??
Di seberang jalan kulihat ada wanita yang sedang berdiri seakan-akan menunggu seseorang.
mungkin wanita itu tahu, dan akupun berniat pengen bertanya padanya.
Belum sempat kutanya, eh dia malang bicara duluan.
“Pelayanan mas.!!” Katanya
“maaf, apa mbak?” tanyaku, yang memang saat itu suaranya kurang jelas.
”pelayanan Mas..” katanya lagi.

”Pelayanan ??” jawabku spontan
Dalam hati bingung juga, pagi-pagi gini (sekitar jam 9 pagi) ada pelayanan apa.
Pelayanan SIM??? Bukan
Pelayanan kesehatan......apalagi
Pelayanan Bank..... ga mungkin.

Setelah dipikir-pikir ternyata maksudnya ”pelayanan gituan”

Astragfirullah, ampuni aku ya Allah.

Berlalu kumeninggalkannya sambil masih bingung dan shock.
Eh, belum selesai shock yang kualami dari depan ada motor matic yang tepat berada di depanku, seolah-olah mau menabrakku.
Pengandaranya seorag wanita dengan make up menor dan baju seksi.
Ternyata sama aja.
Tawaran itu lagi yang muncul dari bibirnya.

Ngimpi apa semalem, kok pagi-pagi udah ditawarin hal-hal ga jelas.

Jalan lagi lah sambil terus istigfar.
Disebuah persimpangan jalan terpampang jelas disebuah tembok bangunan tulisan
”CEWEK-CEWEK DILARANG MANGKAL DISEKITAR SINI, MENGGANGGU KENYAMANAN WARGA”

OOO, paham aku. Ternyata daerah situ memang biasa buat magkal wanita-wanita ”nakal”.

Ya udahlah, kembali ke tujuan semula nyari masjid.
Sampailah di masjid yang ditunjukkan penjual soto. Setelah minta izin kepada penjaga masjid, Let’s action.....
Bersih-bersih, mandi, ganti baju, plus sholat dhuha pun telah dilaksanakan.
Plus tambahan doa biar kuat iman kalau nanti ada yang nggodain lagi.

Saatnya balik lagi ke stasiun, karena teman yang jemput sudah hampir sampai.
Kucoba lewat jalan yang berbeda dengan harapan ga ada yang nawarin lagi.
Wah, ternyata perkiraanku salah. Di jalan yang lain pun malah lebih banyak yang mangkal dipinggir-pinggir jalan.
Ya Allah, sudah sebegitu rusakkah akhlak manusia?????
Dengan wajah tenang, langkah tegap, dan sok ga peduli kulewati kerumunan mereka.

Astagfirullah aladzimi

Read More......

Jumat, 19 November 2010

Disanapun ada pelajaran berharga

Matahari terik mengiringi langkah Ipin, angin kering bercampur hawa panas berderu pelan menerpa wajahnya yang masih tampak ceria. Siang itu, Ipin akan berpetualang mengelilingi daerah yang lumayan asing baginya. Kali ini dia memilih daerah jatinegara, Jakarta Timur.

Jiwa muda Ipin tidak betah jika hanya diam saja. Kebetulan hari ini dia tidak ada tugas, jadi dia memutuskan untuk melihat realita kehidupan kota yang sebenarnya. Mungkin ipin terinspirasi setelah membaca Novel karya Andrea hirata berjudul edensor. Di dalamnya ada kisah tentang BACKPACKER. Seru, menantang, dan penuh keberanian. Itulah yang ingin dicari ipin.


Hanya sendal jepit, topi, plus tas kosong yang menemani pertualangannya kali ini. Handphone, dompet, dan barang-barang berharga lain dia tinggalkan dikamar kosnya. Dia hanya bermodalkan uang Rp 5.000,-. Sengaja dia melakukannya, karena dia ingin ikut mersakan kerasnya hidup di ibu kota.


Kalau dipikir-pikir, memang kelihatannya Ipin ini kurang kerjaan. Coba bayangkan, hari libur, matahari terik, acara TV bagus, kan mendingan ”hibernasi” di rumah sambil memanjakan badan (tidur), atau dari pada capek-capek jalan-jalan ga jelas, lebih baik main game di kamar. Seru, asyik, dan bisa menghilangkan penat. Mungkin itulah pikiran sebagian besar orang. Awalnya di benak Ipin juga terngiang-ngiang hal seperti itu. Tapi semangat mengalahkan kemalasannya.


Bismillahirrohmanirrohim...
Prok....prok...prok...suara sendal jepit yang beradu gesek dengan aspal jalanan menjadi alunan pengiring langkahnya. Tak lupa untaian senyum manis menghiasi bibir yang langsung dia kirimkan kepada tetaangga-tetangga yang dilalui. 
”Mari Pak!”, 
”Mari Bu!” 
mungkin itulah yang mempererat hubungan silaturahmi Ipin dengan tetanganya. Walaupun tidak kenal namanya, tapi sudah cukup dengan panggilan Pak, Bu, Mas, Dik plus senyum indah dari bibir mungil ini...


Jalanan bising dan berdebu ipin terjang dengan semangat. Deru kendaraan bermotor serta kepulan asap semakin menunjukkan bahwa ini adalah ibu kota penyumbang polusi perusak kelokan anugerah Illahi. Tak terasa sudah setengah jam ipin brjalan kaki, dan hampir 3 kilometer dia tempuh dengan dua kakinya.
Akhirnya tibalah dia di Stasiun Jatinegara. Tempat pertama yang ingin dia kunjungi untuk mencari ilmu kehidupan baru.


Orang berlalu lalang, pedagang asongan berteriak-teriak menawarkan dagangannya, tetapi deru mesin lokomotif dan suara gesekan roda kereta dan rel membungkam semua kebisigan manusia-manusia itu, yang terdengar hanyalah suara kereta yang sangat kencang.

Ipin merasa capek, dari kejauhan dilihatnya ada seorang penjual es. Wah seger banget kalau panas-panas gini bisa minum es. Apalagi di dekatnya ada seorang anak kecil yang juga asyik menenggak es teh dari plastik yang digenggam erat kedua tangannya. Ya Allah nikmat banget es teh itu...


Beli atau tidak ya? Pikir ipin dalam hati. Ah, aku masih bisa tahan. Inikan masih godaan pertama, masih banyak ujian lain menunggu di depan.
Es teh berlalu. Dengan mulut yang kering ipin mencari tempat duduk untuk istirahat.
Diperhatikannya setiap orang yang melntasinya. Orang tua, muda, laki-laki, perempuan, anak sekolah, semua berbaur menunggu kereta. 

Di depan ipin duduk seorang ibu yang sibuk memainkan handphonenya, di sebelahnya ada bapak-bapak yang serius membaca koran yang baru dibelinya dari pedagang asongan yang lewat. Kelihatannya mereka adalah suami istri.


Di ujung tempat duduk ada dua muda-mudi pelajar SMA yang asyik memadu kasih. Dalam hati ipin bingung juga. Kok mereka tidak malu ya, bermesraan di tempat umum. Apa mereka pikir stasiun itu milik mereka, yang lain Cuma numpang!!! Wah, tidak sopan. Mungkin inilah cermin kehidupan ibu kota.


Pikiran nakal ipin ikut andil. Wah, didepanku ada suami istri, di ujung sana ada orang pacaran, ipin lalu menengok ke sampingnya. KOSONG....., tidak ada siapa-siapa. Seandainya ada seorang pendamping di saat seperti ini, pasti bahagia sekali hati ini. Ah, itu hanya lamunan belaka. Segera ipin buang bayangan itu.


Tak lama kemudian datang seorang gadis kecil kira-kira berusia 10 tahun. Tangan kanan menggendong adiknya yang masih bayi dan tangan kiri menggandeng adiknya lagi yang kira-kira berusia 3 tahun. Pakaiannya lusuh, badannya kotor, raut mukanya muram. Sementara, adik yang dalam gendongannya terus menangis. Entah karena lapar, sakit, atau apalah.....ipin tidak tahu.
Kemana ibunya?
Kemana Bapaknya?
Kenapa ketiga anak itu dibiarkan terlantar di tempat seperti ini?
Sungguh kejam dunia ini.


Mereka tidak meminta-minta, mereka tidak mengemis. Mereka hanya bermain-main sambil sesekali memungut botol air mineral yang mereka temukan.


Sambil sesekali menghibur adiknya yang menangis, gadis tadi mencari tempat duduk. Akhirnya direbahkan badannya di tangga jalan yang nota bene sangat kotor. Tidak pantas untuk dijadikan tempat duduk. Aku masih terpaku menatap gadis dan kedua adiknya itu. Aku tak mampu bergerak dan lidah ini kaku. Hanya hati yang masih kuasa untk menyebut keagungan Allah. Tak terasa butir-butir kasih allah menetes dari kelopak mataku. Sadar akan hal itu, langsung kuseka air mataku, aku malu bila dilihat orang-orang disekitarku.


Masih kuperhatikan anak-anak tadi. Gadis kecil tadi memeluk adik bayinya dengan sayang, sambil mendendangkan nyanyian seadanya, dia mencoba untuk menghibur adiknya yang sedang menangis.tangan kanannya juga tak henti-hentinya mengelus-elus kepala adiknya.


Sungguh, pemandangan menakjubkan berupa kasih sayang seorang kakak kepada adiknya. Dia tidak marah ketika adiknya menangis, dia tidak mencaci ketika adiknya rewel, dia tidak putus asa walaupun harus terus menggendongnya. Bahkan, dengan lembut dia mencium pipi mungil adik bayi itu.


Kualihkan pandanganku dari gadis kecil tadi. Kuperhatikan wajah dan raut muka orang-orang sekelilingku. Kurasakan tidak ada respon apa-apa dari mereka. Mereka tetap cuek dan sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Tak satupun yang menujujkkan sikap kepedulian kepada gadis kecil itu. Ya Allah, inikah sikap hambamu yang mengatakan dirinya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain engkau dan Rasul Muhammad saw sebagai utusanMu.


Mungkin inilah suasana kota besar. Setiap orang sibuk memikirkan nasibnya sendiri tanpa peduli keadaan orang lain. Hatiku tersayat, tidak tega terus-menerus melihat kejadian ini. Akhirnya aku bangkit dari duduk. Kurogoh kantong celanaku sambil berjalan menuju gadis kecil.”Dik, silakan ambil sedikit rezeki ini”. 
"Hanya itu yang bisa  kulakukan."
"Karena hanya itu yang kubawa, uang 5.000 rupiah."
gumam ipin sambil berlalu meninggalkan gadis kecil itu.










based on true story,
dari seseorang
Read More......

Kamis, 18 November 2010

Adzan kok di dalam kereta .....!!!!


Seperti biasa, kereta api ekonomi adalah salah satu guru terbaik dalam hidupku. Di dalamnya aku belajar mengenai penerapan ilmu yang telah kupelajari, terutama ilmu tentang kesabaran, keikhlasan, istiqomah, dll.

Setelah liburan di kampung halaman, aku balik ke Jakarta naik kereta api Brantas (kelas ekonomi). Cukup dengan Rp 39.000, sudah sampai Jakarta. Murah meriah.

Biasanya sih susah untuk dapat tempat duduk. Mungkin kali ini agak sepi, jadi masih kebagian tempat duduk, Alhamdulillah. Aku berangkat bersama dengan 3 orang teman, tapi tempat dudukku terpisah dengan mereka.

Sekitas pukul 15.00 Kereta api berangkat dari stasiun Madiun dan melaju menyusuri rel yang mengembang akibat terus-menerus tersengat terik sang mentari.

Stasiun Ngawipun sudah siap kami singgahi, kereta berhenti dan banyak penumpang baru yang masuk. lumayan penuh juga ni kereta. Aku masih sibuk dengan buku bacaan yang memang kusiapkan (ketika naik kereta biasanya kusiapkan buku untuk menemani perjalanan, biar tidak bosan).

Diantara penumpang yang baru naik, aku mengamati seorang laki-laki yang mengenakan baju gamis plus kopyah. Beliau menyambangi setiap tempat duduk, dengan santun beliau menanyakan apakah tempat duduk tersebut kosong atau tidak? Lama juga beliau mencari kursi yang masih kosong. Akhirnya beliau mendapatkan tempat duduk 2 kursi dibelakangku.

Perjalanan kembali seperti biasa kembali dan aku kembali melanglang buana, terbang bersama dengan buku bacaanku. Hingga mejelang pukul 18.00 (ketika waktu maghrib masuk) aku tersentak kaget. Saat itu hatiku benar-benar terpana dan kagum. Aku mendengar lantunan indah suara dari dalam gerbong kereta. Telingaku menangkap sebuah alunan nada penyejuk hati.

Allahu Akbar…Allahu Akbar….
Allahu Akbar…Allahu Akbar….
Asyhadu ala ilaha illallah….

Lantunan adzan menggema di gerbong kereta. Itu bukan suara tape atau suara radio, tetapi itu adalah suara asli manusia. Sumber suara berasal dari belakang tempat dudukku. Seketika itu aku menoleh kebelakang dan kudapati lelaki bergamis tadi berdiri kokoh sambil melantunkan adzan Maghrib. Hatiku langsung tergerak dan bertekad bahwa aku menjawab panggilan itu dan segera ikut sholat bersama dengan lelaki tadi.
Luar Biasa ………

selesai mengumandangkan adzan, lelaki tadi mengajak semua penumpang untuk melaksankan sholat maghrib sambil menjelaskan keutamaan sholat dan ancaman meninggalkan sholat. Dengan perasaan yang masih kagum aku segera bangkit dari tempat dudukku dan menghampiri beliau. Aku meminta izin untuk wudhu dulu, agar tidak ketinggalan sholat berjamaah bersama beliau.

Sekitar 10 menit beliau mengajak penumpang untuk sholat jamaah, tetapi yang berkenan memenuhi panggilan itu sungguh mencengangkan. Dari sekitar 100 orang dalam gerbong itu, yang bersedia memenuhi panggilan itu hanya sekitar 6 orang, dan Alhamdulillah kami (aku dan beberapa temanku) termasuk salah satunya.

Saat itu aku bingung, bagaimana kami akan sholat berjamaah. Tempat tidak memungkinkan dan pedagang asongan terus lalu lalang. Lelaki bergamis tadi ternyata sudah mengkondisikan suasana, beliau meminta kepada para pedagang asongan untuk tidak lewat selama pelaksanaan sholat. Dan pedagang asongan itu bersedia. Beliau lalu menggelar koran di lorong kecil diantara tempat duduk dan berdiri untuk mengimami sholat maghrib jamaah, sedangkan kami sebagai makmum hanya bisa duduk di kursi dibelakang beliau.

Terlepas dari perdebatan para ulama tentang sholat di kendaraan, saat itu aku merasakan sensasi yang luar biasa. Untuk pertama kalinya aku sholat berjamaah di dalam kereta api ekonomi. Ini adalah moment langka yang belum tentu bisa aku ulangi lagi. Yang jelas saat itu hatiku terbuai penuh kekaguman atas karunia Allah yang mempertemukan aku dengan sosok lelaki tangguh yang sangat gigih memperjuangkan perintah Illahi.

Suasana kereta saat itu memang cukup ramai, tapi aku tidak tahu bagaimana perasaan penumpang lain ketika kami melaksanakan sholat berjamaah. Apakah mereka tersentuh, cuek atau biasa aja. Hanya Allah yang mengetahui segala isi hati.

Setelah sholat maghrib jamaah dan dzikir secukupnya, kami berbincang-bincang tentang berbagai macam masalah. Akhirnya aku tahu bahwa lelaki itu bernama Mukhlis (klo tidak salah). Kami ngobrol masalah agama, dakwah, ibadah, kepedulian, dll. Untuk pertama kali juga aku merasakan suasana Liqo di dalam kereta api, yang secara teori tidak memungkinkan untuk melaksanakan hal itu. Banyak ilmu baru kudapatkan dari pengalaman-pengalaman dakwah baliau. Aku jadi tertantang untuk mempunyai semangat juang seperti beliau.

Akhirnya dengan sedikit malu, aku meminta izin untuk mengumandangkan adzan ketika isya nanti. Belilau langsung mengizinkanku. Wah, angin mana yang mendorongku untuk mengatakan hal itu. Semoga ini bersumber dari kekuatan yang Allah anugerahkan, dan bukan dari dorongan nafsu riya’.

Lima menit sebelum masuk waktu isya pak mukhlis mengingatkanku untuk adzan. Hatiku pun mulai deg-degan. Walaupun sudah pernah adzan di masjid, tetapi aku belum pernah mengumandangkan adzan di dalam tempat yang penuh dengan manusia dengan kesibukannya masing-masing. Bagaimana harus kumulai untuk membuka mulut ini.

Bagaimana perasaan penumpang lain, apakah mereka akan mengumpatku, menganggapku orang aneh, atau malah menganggapku sebagai pengganggu perjalanan mereka. Itulah bayangan-bayangan negative yang terlintas dalam pikiranku.

Akhirnya waktu isya sudah tiba. Aku menghela nafas dalam-dalam. Kucoba membuang rasa grogi ini. Dengan ucapan bismilah aku bangkit dari tempat dudukku dan berdiri untuk mengumandangkan adzan isya.
Hatiku kembali goyah ketika mataku menatap penumpang yang sibuk mengobrol dan pedagang asongan yang berlalu lalang sambil berteriak-teriak menawarkan dagangannya.

Dalam hati aku berpikir bahwa suaraku harus lebih lantang dari obrolan penumpang dan teriakan pedagang asongan. Karena saat itu aku akan menawarkan barang dagangan yang jauh lebih berharga, yaitu perdagangan dengan Allah untuk mengajak manusia melaksanakan ibadah pada Nya.

Kupejamkan mataku dan mulai kubuka mulutku…..

Allahu Akbar…Allahu Akbar….
Allahu Akbar….Allahu Akbar….
Asyhadu ala ilaha illallah…

Mataku masih terpejam, akuk tidak berani membuka mata karena takut melihat rona dan sikap penumpag lain yang mendengarkan suara adzanku.
Ketika melantunkan Hayya ‘alassholah…aku mulai berani membuka mata.

Ternyata sikap penumpang lain cuek-cuek saja. Hanya ada beberapa penumpang yang khusyu mendengarkan.
Alhamdulillah adzan selesai dikumandangkan. Sebuah sensasi luar biasa yang terjadi dalam hidupku. Pak Mukhlis kembali megajak penumpang dan pedagang asongan untuk sholat berjamaah.

Kamipun melaksanakan sholat Isya berjamaah. Setelah itu kami ngobrol sebentar dan aku minta didri untuk kembali ketempat dudukku.

Sungguh, hari itu adalah hari spesial dalam hidupku. Sebauah kenangan indah yang kan menjadi sebuah catatan manis dalam perjlanan usia ini. Semoga kejadian itu dapat menjadi salah satu ibadah yang dapat kubangga-banggakan ketika aku mengnhadap Allah Ta’ala di yaumul hisab nanti.
Semoga Allah mengaruniakan keberkahan kepada Pak Mukhlis yang telah berkenan memberikan ilmu dan pengalaman baru yang tak tergantikan.

Aku selalu berharap ketika naik kereta ekonomi, aku akan bertemu Pak Mukhlis- Pak Mukhlis yang lain.

Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, Engkau mengajariku dengan cara yang sangat indah…..






Based on true story


Khoms 220409

Read More......

Rabu, 18 November 2009

Aku lebih tahu tentang diri ini

Aku lebih tahu tentang diri ini dari pada orang lain..
Dan Allah lebih tahu segala diri ini dari pada diriku sendiri…

Di luar sana banyak orang menyanjung diri ini…
Ada yang kagum, tertarik, bahkan terinspirasi pada kepribadian dan sifat yang tertanam dalam raga ini.

Aku merasa heran, sempat juga bingung…
Apa yang dikagumi orang dari diri yang hina ini..
Apa tidak salah mereka menyanjung diriku??
Dari sudut mana mereka memandang kelebihanku…

Ku tak mau melayang dalam kebanggaan semu ini. Sanjungan yang tak kuyakini..

Kulahkankan kaki dan kudatangi cerman besar tempat introspeksi diri.
Kutatap satu persatu bagian tubuhku. “biasa-biasa aja”, bisikku lirih.
“tidak ada yang istimewa dalam diriku. “Tampang standard, tubuh ga gede-gede amat, ibadah juga ga ada yang istimewa.”

Kupandangi lagi raga yang bernyawa ini.
Sejenak mata kagum akan maha karya Sang Pencipta. Teliti hingga detil tersembunyi. Tanpa cela dan tanpa hina. Subhanallah

Terbayang dalam pikir, betapa pemurah Allah memberikan kelengkapan organ dan indera pada diriku.

Semakin lama kutatap bayangan dalam cermin, hatikupun ikut berbicara..

Tanganmu indah dan kekar,
Berapa banyak amal yang berawal dari tanganmu. Berapa sering tanganmu megulurkan sedekah pada mereka yang kurang beruntung darimu..
Ataukah kemaksiatan yang menghiasi tangan yang kau banggakan itu

Matamu bulat, hitam dan tajam.
Banyak orang memuji keindahan matamu.
Berapa sering mata itu memandang kalam indah dalam Al Quran,
Ataukah mata itu kau biarkan bergentayangan memandang aurat penuh syahwat…

Mata memang anugerah indah. Dia merupakan potensi kebaikan tak terhingga, tapi juga bisa menjadi jurang kebinasaan jika tak mampu kita jaga.

Hatipun terus menoreksi tindak tanduk setiap bagian tubuhku….
Seberapa banyak gunjingan, gossip, dan suara maksiat menghiasi telingamu..

Seberapa sering kata-kata kotor, caci maki, dan kebohongan keluar dari mulut manismu
Kakimu….
Pikiran kotormu…
Dan inderamu yang lainnya..

Sering diri ini merasa berat mendatangi majelis ilmu atau panggilan shalat.
Sering tubuh ini mencari-cari alas an untuk menolak ajakan kebaikan.
Sering raga ini merekayasa pembenaran-pembenaran untuk melegalkan kemaksiatan.

Kakiku belum beranjak dari cermin introspeksi.
Hatipun semakin menggelora menghakimi tubuhku sendiri.
Tak mampu terhitung, dan tak kuasa tertampung besarnya dosa dan kesalahanku selama ini.

Berhianatkah diriku??

Allah sudah menganugerahkan kelengkapan dan kesempurnaan pada tubuhku, tetapi apa yang bisa kupersembahkan untuk mensyukuri nikmat tak terbayar ini?
Malah, kemaksiatan sering menghiasi keseharianku..

Mana tanggung jawabmu wahai diriku?

Terbayang, betapa enaknya jika Allah tidak mengaruniakan organ-organ ini, sehingga potensi dosa tak sebesar ini.
Tak perlu susah-susah menjaga pandangan.
Tak perlu pusing mengendalikan bibir.
Dan tak perlu khawatir akan kesalahan kaki, tangan, dan organ yang lain.

Aku seperti ini dan inilah diriku.

Aku yakin Allah memberikan yang terbaik bagiku….
Kesempurnaan ini, harus kuperjuangkan sebagai lumbuing kebaikan bagi diriku…

Aku sadar tubuh kekar ini penuh dosa dan salah
Apakah aku akan terus terbelenggu dalam jurang ini?

Kutatap tajam bola mata sosok dalam cermin itu.
Kulihat ada kesungguhan dan kemauan untuk berubah.
Kurasakan getaran menggelora untuk terlepas dari jerat maksiat.

Kukatakan pada sosok itu…
Kamu belum terlambat, janganlah berputus asa.
Ada jalan taubat yang disediakan Allah bagi hambanya yang berlumur dosa.
Karena Allah MAha Pengampun.

Berdoalah pada Allah akan iman, islam, dan kebaikanmu.
Allah pasti mengabulkan doamu.

Makhluk terlaknatpun Allah kabulkan doanya, tatkala iblis meminta tidak dimatikan sampai kiamat dan menggoda manusia.

Engkau tidak sejahat iblis, percayalah…


Kembali ku tersadar……
Senyum optimis terkembang..
Jiwa semangat berkobar.

Masih ada harapan di depan.
Belum terlambat menggapai kebaikan.



Aku lebih tahu diriku dari pada orang lain,
Dan Allah Maha Tahu tentang diriku



Sebuah kisah antara Aku dan Diriku….


Khoms, 181109
Read More......

Jumat, 04 September 2009

INFO BC 21 (KAS ANGKATAN SEPTEMBER)

Assalamualaikum...

teman-teman yang berbahagia, sekarang kan udah bulan SEPTEMBER. sebentar lagi idul fitri. cuma sekedar mengingatkan:

1. mohon segera transfer iuran angkatan. sesuai kesepakatan qt, setoran pertama adalah
Rp 100.000,- (bulan JULI)
Bulan Agustus Rp 50.000,-
Bulan September Rp 50.000,-
tolong di transfer ke rekening pengurus (Bank Syariah Mandiri Cabang Rawamangun No. Rekening 0397080947 a.n. Anggita Husada).

kalau udah transfer segera kirim pemberitahuan ke Sugeng Indriyanto (081219883401) melalui SMS dengan FORMAT ketik : NAMA(spasi) IURAN ANGKATAN BULAN(spasi)JUMLAH (spasi)TANGGAL TRANSFER.
Contoh:
KHOMSUN ARIFIN IURAN ANGKATAN JULI 100.000,- 5 Juli 2009

BISA BAYAR SENDIRI-SENDIRI atau dikoordinir koordinator wilayah

bisa juga bayar langsung beberepa bulan. misal : langsung bayar untuk 4 bulan kedepan...

2. mohon diperhatikan tentang zakat terhadap harta yang kita dapat. itu kewajiban kita. segera cari informasi badan amil zakat di kantor masing2.
kalau tidak ada, bisa dikirim ke pengurus iuran angkatan ke nomor rekening di atas dengan pemberitahuan dengan format
ketik : NAMA(spasi) ZAKAT(spasi)JUMLAH (spasi)TANGGAL TRANSFER.
Contoh :
KHOMSUN ARIFIN ZAKAT 100.000,- 5 Juli 2009

3. jika ada teman2 yang punya rezeki lebih dan berniat untuk menyumbangkan. bisa juga ditransfer ke nomor rekening ini dengan pemberitahuan format
ketik : NAMA(spasi)SUMBANGAN(spasi
)JUMLAH (spasi)TANGGAL TRANSFER.
Contoh :
KHOMSUN ARIFIN SUMBANGAN 2 juta,- 5 Juli 2009


4. tolong masuk/ikut di group DTU KESAMAPTAAN PRODIP I & III ANGKATAN I TA 2009. Insya Allah informasi angkatan akan di upload di situ.

5. tolong kasih tau teman-teman yang lain agar informasi ini tidak terputus dan semua pihak dapat melaksanakan hak dan kewajibannya.

Jazakallah khoiron katsiron
Read More......

Sabtu, 11 Juli 2009

to BC 21 : WAKAF QURAN


Assalamualaikum…

Temen2, DKM Baitut Taubah KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok akan mengadakan WAKAF QURAN untuk saudara2 kita di papua. Kegiatan ini mengambil momen Isra mi’raj sekaligus dalam rangka menyambut Ramadhan.


Kami memberikan penawaran kepada teman2 untuk berinvestasi akhirat. Pahalanya GUEEDEEE lho!!!

Untuk Satu mushaf Al Quran, biaya sebesar Rp 65.000,- (sudah termasuk biaya kirim dan akomodasi ke papua).

Ini adalah kesempatan emas sebagai wujud syukur kita atas besarnya nuikmat Allah yang kita terima akhir-akhir ini.


AYO, Kapan lagi???

Jika teman-teman berminat, tolong transfer uangnya ke rekening angkatan kita (Bank Syariah Mandiri Cabang Rawamangun No. Rekening 0397080947 a.n. Anggita Husada).

trus jangan lupa konfirmasi seperti biasa ke nomor Sugeng Indriyanto (081219883401) melalui SMS dengan FORMAT ketik :


NAMA(spasi) WAKAF QURAN(spasi)JUMLAH (spasi)TANGGAL TRANSFER.

Contoh:


KHOMSUN ARIFIN WAKAF QURAN 65.000,- 12 Juli 2009.


Oke, kami tunggu peran serat temen2 dalam investasi berharga ini.

Oya, klo bisa segera ya, paling lambat JUMAT tanggal 17 Juli 2009…..


Jazakallah

Wassalamualaikum…

Read More......

Jumat, 03 Juli 2009

MAKAN HEMAT, NIKMAT, DAN MANFAAT

MAKAN HEMAT, NIKMAT, DAN MANFAAT

Saat itu adalah saat-saat yang sulit untuk kulupakan. Saat perjuangan berat dalam salah satu fase hidupku. Sebuah pengalaman indah yang sangat bermanfaat dalam upaya pendewasaan diriku.

Saat itu aku masih tingkat 1 Spesialisasi Kepabeanan dan Cukai Sekolah Tinggi Akuntannsi Negara. Aku masih kuliah di Jurang Mangu, karena aku baru pindah ke Rawamangun ketika naik ke tingkat II.

Kali ini aku akan bercerita tentang kisah perjuangankku untuk dapat makan.

Alhamdulillah orang tuaku memberikanku jatah uang untuk kuliah dengan metode langsung dikasih banyak, artinya orang tuaku memasukkan uang ke rekeningku dalam jumlah lumayan besar. Lalu aku bertugas untuk mengatur sendiri. Aku tidak dijatah tiap bulan, karena dari kecil aku tidak dibiasakan dijatah perbulan. Karena merasa mendapat kepercayaan dan amanah dari orang tua untuk mengatur keuangan itu, aku jadi takut untuk menghambur-hamburkan uang. Padahal kalau dihitung-hitung uangku lumayan banyak dan bisa hidup dengan lebih layak. Tetapi karena dorongan hati dan rasa hormat pada orang tua, aku memutuskan untuk hidup lebih sderhana.

Kesederhanaanku ini berimbas pada model makanku sehari-hari. Ketika teman-temanku sering belanja barang-barang yang kurang perlu dan makanan ringan yang banyak, aku hanya belanja seperlunya saja. Yang penting cukup untuk mmenuhi kebutuhan pokok dan suplemen. Untuk snack atau makanan ringan aku jarang sekali membelinya. Paling-paling kalau lagi kepingin jajan, aku beli saja gorengan yang setiap malam lewat depan kosku.

Di kondisi kota Jakarta yang terkenal semua serba mahal, ternyata masih ada warung yang menyediakan menu makanan yangn murah. Konsekwensinya ya rasa dan kualitasnya tidak setinggi warung yang mahal. Yang penting perut terisi dan mampu untuk beraktivitas kembali. Satu kali makan aku biasanya hanya menghabiskan uang Rp 2.000 – 2.500. uang segitu cukup untuk makan sengan menu nasi, telur goreng, dan sayur. Kalau hanya pakai tempe bacem 2 buah, harganya jadi 1.800. bahkan aku pernah makan hanya dengan Rp 900,-. Aku juga kaget ketika aku tanya ke bapak pemilik warung berapa semuanya yang kumakan? Bapaknya bilang sembilan ratus rupiah, Dik! Allahu Akbar. Di Jakarta makan dengan Rp 900,-, bagaikan mimpi di siang bolong.

Karena sering makan dengna menu itu-itu saja, lama-kelamaan lidah ini terasa bosan. Makanan jadi hambar, nafsu makan meredup dan sering ada niat dalam hati untuk berganti menu-menu yang lebih mahal. Di depan kosku ada penjual nasi goreng. Satu porsinya seharga Rp 5.000,-. Teman-teman kosku sering sekali membelli nasi goreng itu. Walaupun ada di depan kosku, aku jarang sekali membeli nasi goreng itu. Mungkin bisa dihitung dengan jari. aku membeli nasi goreng karena alasan warung lain sudah habis, pulang kemalaman, atau pengen coba sekali-kali menu baru. Aku rasa harga nasi goreng itu terlalu mahal bagiku karena aku sudah terbiasa makan sederhana.

Suatu saat aku pulang kampung. Biasanya bagi kalangan mahasiswa, pulang kampung itu sebagai ajang penggemukan badan dan perbaikan gizi. Tak usah dijelaskan panjang lebar ya! Karena aku yakin teman-teman juga mengerti apa yang aku maksud.

Ketika mau balik ke Jakarta, aku minta izin ibu untuk membawa rice cooker ibu yang sudah tidak terpakai. Ibu mengizinkan. Rencananya aku mau belajar memasak sendiri untuk makanku sehari-hari.

Kutata kembali kamar kosku. Kuatur penempatan barang-barang yang menghiasi kamar kesayanganku. Rice cooker kuletakkan dengan stop kontak agar mudah nyolokinnya.

Mulai hari itu aku bertekad untuk mulai belajar makan dari hasil karyaku. Aku ingin lebih berhemat lagi. Maklum aku sudah terbebani uang sewa kamar yang lumayan mahal, ditambah biaya listrik perbulannya. Jadi untuk menutupinya aku harus berhemat. Saat itu aku belum berupaya untuk melebarkan sayap untuk mencari usaha sampingan yang dapat menambah pundi-pundi kantong karena aku masih kelas 1 dan belum menguasai medan di sana. Aku mulai bekerja sampingan sebagai guru les ketika kelas 1 semester 2. saat itu aku mengajar bimbel USM STAN. Hasilnya lumayan bisa untuk sedikit menentramkan hati dan menambah uang saku. Aku juga aktif dibeberapa organisasi kemahasiswaan. Alhamdulillah aku dijerumuskan kakak kelasku ke dalam BEM (Badan Eksekutif Mahasisiwa), lumayan aktif di MBM (LDK di kampusku), KMBC dan IMMBC (oerganisasi Bea Cukai punya), IKMP (kumpulan anak2 ponorogo di STAN), dan organisasi lainnya. Menginjak kelas dua, setelah selesai amanah dari BEM, lagi-lagi aku dijerumuskan untuk masuk ke BLM (Badan Legislatif Mahasiswa). Melalui organisasi itulah aku punya banyak teman, tambah pengalaman, dan menambah kedewasaan dan kualitas diriku.

Kembali ke masalah makan ya....

Pada awalnya aku hanya masak nasi dengan rice cookerku. Sedangkan lauk aku beli di warung. Lauknya sederhana saja. Mulai dari tempe bacem kesukaanku dan paling-paling untuk nambah asupan gizi aku beli telor. Harga tempe bacem untuk sekali makan cukup Rp 500,-. Itu sudah dapat 2 buah tempe bacem. Waktu beli aku minta kuahnya dibanyakin. Sampai kamar kos, bungkusan tempe bacem kubuka lalu kutuang ke atas nasi yang sudah kusiapkan diatas piring. Makanan yang kumakan hanya berharga Rp 1000,-. Nasinya aku masak sendiri dengan perkiraan harga Rp 500,- dan tempe bacem juga denngan harga yang sama. Saat itu harga 1 liter beras sekitar Rp 2.800 – Rp 3.500,-. Beras 1 liter itu bisa kubuat makan 6-7 kali makan. Hemat kan!!!

Aku merasa jika terus-terusan pakai tempe, aku akan kekurangan energi untuk menjalankan aktivitasku yang cukup padat. Baik aktivitas kuliah maupun ngurus organisasi. Aku mulai membiasakan untuk makan dengan lauk telor.

Nasi tetap kumasak sendiri, sedangkan sayur dan telor kubeli dari warung. Aku mulai berpikir, kayaknya jika aku terus-terusan beli lauk telor di warung aku menjadi lebih boros. Aku ingin tetap makan pakai telor tapi aku bisa lebih hemat. Akhirnya kuputuskan untuk mencoba menggoreng atau merebus telor sendiri. Hanya sayur saja yang beli dari warungn. Dan sayur seharga Rp 500,- bisa kukgunakan untuk dua kali makan. Harga telor mentah Rp 500,- sedangkan telor yang sudah matang di warung harganya Rp 1000 – Rp 1.500.

Aku mulai belanja untk mencoba masak sendiri. Aku biasanya membeli telor di Harmony Swalayan. Aku langsung membeli 1 kilo. Kubawa pulang dan kusimpan di dalam kulkas ibu kos. Selain itu aku juga membeli kecap manis, saus sambal, sayur sawi, garam, dan royko.

Di kos aku diam-diam mulai sering menggunakan kompor milik ibu kos. Sebagai konsekwensinya aku juga beberapa kali membeli minyak tanah dan minyak goreng untuk bahan memasakku.

Yang paling sering aku menggoreng telor lalu kumakan dengan nasi dan kecap. Itu saja sudah terasa nikmat. Suatu saat saya juga mencoba membeli tempe mentah dari penjual sayur keliling dan aku goreng lalu kumakan sebagai lauk. Eh, ternyata nikmat juga. Sayur sawi juga tak luput dari kekreatifanku. Aku sadar bahwa aku tidak pandai memasak dan tidak bisa membuat bumbu. Aku mulai berspekulasi dan mencoba-coba.

Ini resep asli buatanku, tapi agak aneh juga.

Tempe yang sudah kubeli kuiris kecil-kecil lalu kugoreng. Untuk menghemat, aku pakai minyak goreng sedikit sekali, bahkan tak jarang karena minyak goreng terlalu sedikit, tempeku jadi gosong dan seperti arang.

Setelah tempe agak matang, lalu tempe kuangkat dan kutaruh di piring. Langkah kedua kupotong sayur sawi kecil-kecil lalu kumasukkan ke dalam wayan agar layu. Setelah layu jurus nekatku mulai kulakukan. Kuambil kecap manis kutuang ke dalam wajan. Ukurannya kira-kira saja deh! Lalu saus sambal juga ikut menyusul ke dalam wajan. Aku lalu teringat royko yang kubeli. Kumasukkan royko untuk menambah aroma. Setelah tercampur, sayur sawi yang sudah layu dan tempe yang tadi kugoreng kumasukkan lagi ke dalam wajan. Kuaduk hingga rata dan sedikit mengental. Setelah merasa cukup, kumatikan kompor konvensional itu dan kutuang ke dalam piring. Baunya enak sekali. Perpaduan antara kecap manis, saus sambal ditambah bumbu penyedap royko. Dengan isi sayur sawi dan tempe goreng.

Lalu kubawa ke dalam kamar dan aku makan dengan lahapnya. Satu porsi sayur yang kubuat bisa kupakai makan 2 kali. Harganya sangat murah sekali dan menjadi ajang kreativitas bagiku. Mungkin jika temanku kutawari untk makan hasil kejahilanku tadi, kemungkinan besar mereka menolak. Mungkin karena mereka tidak yakin bahwa aku juga bisa memasak.

Disaat yang lain aku juga sering menggunakan bawang merah dan bawang putih milik ibu kos untuk kucampur dengan adonan telorku, tapi lama-lama hatiku merasa tidak enak. Akhirnya aku beli sendiri bawang merah dan bawang putih itu.

Sayur sawi memang menjadi andalanku untk asupan gizi dari sayur-sayuran. Yang repot adalah ketika sayyur sawiku habis dan aku belum sempat ke swalayan. Aku memikir otak dan akhirnya kutemukan ide baru.

Setiap pulang dari MBM aku melewati jalan kecil yang dipinggirnya tumbuh pohon singkong. Aku mulai berpikir bahwa daun seingkong pun juga bisa untuk sayur dan bisa dimakan. Tentunya daun singkong yang masih muda. Aku mulai bergerilya. Sepulang sholat di MBM aku berjalan melalui jalan biasa dan mencari saat-saat sepi untuk memetik daun singkong yang masih muda. Akhirnya aku berhasil mengantongi segenggam daun singkong. Lumayan banyak juga sih.

Sesampai kos aku berpikir lagi. Wah, kalau tetap seperti ini dan langsung dicampur dengan telor, bisa-bisa aku tidak bisa menelan daun ini karena seratnya kasar sekali. Akhirnya kuputuskan untuk merebus dulu daun itu dengan heater didalam kamarku. Setelah kurebus daun itu tampak lebih layu dan empuk. Kupotong-potong lalu kucampur dengan telor yang sudah kokocok. Tak lupa kutambahkan bawang merah, cabe dan royko. Akhirnya kugoreng adonan itu dan kunikmati bersama nasi yang ditemani saus sambal. Saus sambal yangn paling kusuka dalah samabal ala bangkok. Enak banget. Tapi jangan kebanyakan, bisa-bisa nanti mencret. Karena aku adalah tipe manusia yang sensitif trehadap rasa pedas.

Aku mulai berimajinasi lagi. Adonan daun singkong, bawang, cabe dan royko tadi kuolah dlam pikiranku. Bagaiman caranya agar adonan itu bisa menjadi lebih banyak. didapur aku menemukan kantong plastik berisi tepung punya ibu kos. Aku dapat ide. Aku ambil sedikit tepung itu lalu kumasukkan dalam adonan telor tadi. Hasilnya, perfect. Laukku jadi lebih banyak dan bisa kugunakan untuk 2 kali makan. Ketika belanja ke swalayan aku putuskan untuk membeli tepung juga sebagi penambah adonan lauk kesayanganku.

Seiring berjalannya waktu aku malu jika terus memetik daun singkong di tepi jalan karena banyak orang yang melihat. Suatu saat aku berpetualang di kebun belakang kosku. Disana aku mendapati beberapa pohon singkong yang tumbuh, tapi tinggi-tinggi. Di tanah tergeletak beberapa batang pohon singkong yang habis dipanen. Aku langsung punya ide cemerlang. Kenapa tidak kuambil saja satu batang singkong itu lalu kubersihkan, kupotong pendek-pendek, lalu kutanam di pinggir kolam penampungahn air dibelakang kosku sehingga aku seakan-akan punya kebun singkong sendiri untuk kupetik daun-daun mudanya sebagai lauk makanku.

Akhirnya rencanaku terwujud dan selang satu minggu kemudian tunas-tunas mulai tumbuh di batang pohon singkong yang aku tanam. Aku bersorak. Ide gila itu terwujud juga. Aku tidak perlu jauh-jauh untuk memetik daun singkong. Cukup di belakang kosku saja. Dan itu adalah pohon yang kutanam sendiri.

Hari-hari pun berlalau dan aku masih tetap dengan pola makan hematku. Teman-teman kosku mungkin tidak tahu kegiatan-kegiatan anehku ketika makan. Karena aku sering makan di dalam kamar karena malu jika ketahuan teman-teman. Laukku seadanya, aneh, dan nanti pasti timbul banyak pertanyaan.

Itulah beberapa pengalaman indah yang berkaitan dengan pola makanku yang aneh. Walaupun amanah tugas kuliah maupun organisasi menggunung, aku masih bisa melaksankan semuanya dnegan baik. Untuk masalah akademik, Alhamdulillah aku selalu masuk 3 besar, dan untuk urusan organisasi aku bisa lebih aktif dan lebih dewasa.

Makanan memang memegang pengaruh penting dalam aktivitas kita, tetapi ada hal yang lebih penting lagi, yaitu komitmen, kesungguhan, dan keikhlasan kita dalam menjalani semuanya. Dengan pola makan aneh seperti itu Allah masih memberiku kekuatan untuk berprestasi yang lebih baik.

Sebagai tambahan, dengan pola hematku tadi aku bisa menabung dan berhasil membeli barang-barang yang kuinginkan. Tetapi tujuanku berhemat ini bukan untuk bisa membeli barang-barang itu, tetapi lebih untuk melatih diri dan mencoba merasakan kondisi saudara kita ynag kurang beruntung.

Semoga Allah mengaruniakan jiwa sederhana ini hingga ajal menjemput.

Kepada orang tuaku, aku mohon maaf. Karena sebenarnya kiriman uang untukku jauh lebih dari cukup, bahkan aku bisa menambah uang saku dengan mengajar les. Tetapi aku mencoba menghargai setiap tetesan keringat dan cucuran air mata orang tua saya pada setiap usaha untuk mendapatkan uang itu.

Ternyata mencari uang itu tidak mudah dan butuh pengorbanan.

Ini adalah salah satu hal yang dianggap ”aneh” oleh teman-temanku. Mereka mengatakan aku senang untuk mempersulit diri sendiri. Kebiasaan mempersulit diri sendiri ini masih sering kulakukan sampai sekarang, tetapi dalam bentuk yang berbeda, yaitu aku sering berjalan-jalan keliling ibu kota hanya dengan bekal seadanya. Tanpa dompet, tanpa HP, dan tanpa baranng berharga lain. Intinya aku berusaha survive di tengah kejamnya nuansa ibu kota dan juga untuk lebih bisa merasakan kondisi riil dilapangan yang akan menambah kepedulian kepada sesama dan rasa syukur yang tiada terkira........

Kapan-kapan kuceritakan tentang pengalaman backpacker ini...

Satu lagi, aku punya keinginan ini sudah sejak lama sekali. Aku ingin suatu saat aku berada di suatu tempat, entah itu di dalam bus kota, di terminal, atau di stasiun. Di sana aku menjadi penjual koran atau pengamen. Pekerjaan yang dianggap rendah oleh sebagian besar orang. Padahal pekerjaan itu jauh lebih mulia dari pada hanya meminta-minta dari orang tua. ADA YANG MAU MENEMANI menikmati indahnya pengalaman dan petualangan baru? Kalau ada, hubungi 081335250149.

Let’s action.....

Based on true story

Ketika masih tingkat 1 STAN

Jurang mangu, Juni 2006

Khoms 150609

Read More......

"morning gift"

3 bulan lebih,kulewatkn pengajian d unmuh ponorogo.rasanya kangen banget.maklum,sudah lebih dari 3 bulan aku berjuang d perantauan.

pagi ni kuniatkn untuk ikut pengajian d unmuh bareng bapak dan ibu.dulu,orang tuakulah yang sering memaksaku unt datang ke pengajian itu.

pagi ini indah sekali.

setelah shubuh ku masih ingin bermalas-malasan d tempat tidur,karena semalam habis begadang reuni ma teman2 SMA.

ah,nanti aja lah siap2 jam setengah enam,kan pengajian mulai jam enam.


dalam kemalasanq,q teringat kalau aku harus nyuci baju karena siang ini harus balik k jakarta.sebenarnya ada mesin cuci,tapi baju yg kotor cuma 3 potong.ah,nyuci biasa aja lah,sekalian olah raga.setelah q cuci,q sadar kalo aku tidak punya celana panjang yg bersih.terpaksa,cucian tadi q keringkan d mesin cuci.eh,mesin cucinya juga ikut2an ngambek.kucoba berkali2 ga bisa nyala.ku sempat ngambek.trus kulihat colokan listrikny.ya Allah,ternyata blm d colokin.

wah,celanaq lumayan kerin,walopun msh lembap.ketika mau q pake,ketahuan ma ibu,aku d marahin karena pake celana yg msh agak basah.trus ibu nyuruh aku unt pake celana bapak yg gede banget pinggangnya.eh,ternyata sabuknya juga kegedean,terpaksa harus nglubangin lagi pake paku,walopun sudah d lubangi,sabuk itu susah d kencengin.masalah celana beres,sekarang masalah baju.eh,bajuku ternyata belum q setrika.langsung kunyalain setrika dan q gosok baju koko putih.pagi itu setrikanya nakal juga,setrikany tdk panas2.ya udah,seadanya aja.pake baju agak kusut dikit.Alhamdulillah masalah pakaian beres.


saatnya berangkat.kulangkahkan kakiku keluar rumah,q tengok k teras.lho d mana motornya?ternya kendaraanku d pake kakak pergi.mataku menerawang mencari keajaiban.dengan gagah sebuah sepeda federal berdiri d pojok.kuambil sepeda itu lalu kunaiki.bismillah...

kakiku tiba2 terhenti mengayuh.ternyata rantainya copot.okelah,perbaiki rantai dulu.Alhamdulillah tangan jadi hitam kena minyak rantai.

kusiapkn hati dan jiwaku unt pergi k pengajian.3 km q lalui dgn sepeda.d jalan q ingin mempercepat laju sepeda dgn memindah gearny.dgn tenaga penuh q putar alat pemindah gear.eh,kebablasan.alat pemutarnya rusah,penahannya patah.

rasanya kukayuh sepedaku dgn cepat,tp kok jalanya tetep lambat.ya udah yang penting nyampe.

Alhamdulillah,akhirnya nyampe juga.kulihat jam d hpku jam 06.40.ya,masih ada 20 menit unt mendengarkan taujih.temanya ttg mengubah mindset.selain itu aku mendapat pelajaran kesaaran selama perjalanan itu Read More......

Ujian Nyata Ada di Hadapan Kita

Kawan….
Tak terasa sudah sekian lama kita berpisah….
Jarak dan waktu memisahkan kita

Dahulu kita masih bersama
saling menjaga
Saling mengingatkan
Dan saling menguatkan

Kini engkau bersada di sana
Dana ku berada di sini
Tantangan baru kau hadapi begitu pula denganku disini

Hembusan bayu membawa kabar yang menyentak hatiku
Disana, ternyata engkau berjuang melawan nafsu
Nafsu dunia yang tak pernah berhenti merongrong keimananmu

Godaan dan ancaman menghiasi hari-harimu
Gelimang harta mencoba meruntuhkan kekokohanmu
Suapan rupiah sering hadir menggodamu
Syetan-syetan berkeliaran berusaha menghancurkan keyakinanmu

Aku tahu..
Itu tantangan berat bagimu
Bahkan ancaman kematian juga tak jarang menghampirimu
Semua itu membuatmu ragu akan kekuatanmu

PILIHAN ITU ADA DI TANGANMU
Akankah kau biarkan noda-noda hitam menggelapkan hatimu?
Ataukah,
Kau gigih melawannya demi kesucian qolbu..

SEKALI LAGI, PILIHAN ITU ADA DI GENGGAMANMU
Apa kau akan ikut jejak langkah syetan
Yang menggiringmu ke lembah kebinasaan?
Apa kau tega memasukkan bara apai ke dalam perutmu?
APA KAU TEGA MENYUAPI AYAH IBU DENGAN CAIRAN NANAH MENDIDIH YANG MENJIJIKKAN?
Mana baktimu pada ayah ibu?
Apakah demi kesenangan semu, kau rela mengorbankan orang yang kau sayangi?

Sekali lagi, itu adalah pilihan bagimu….
Jagalah hatimu
Rawatlah tangan dan kakimu

BIARLAH SELURUH DUNIA MEMUSUHIMU,
ASALKAN ADA ALLAH BERSAMAMU

Tanpa kau minta, Allah selalu menemanimu
Tanpa kau mohon, Allah senantiasa menyayangimu
Yakinlah….

Tantangan itu, mungkin masalah besar bagimu
Tapi disana masih ada yang Maha Besar
Teriakkanlah dalam hatimu, tantanglah masalah itu
“HAI MASALAH, AKU MASIH PUNYA ALLAH YANG MAHA BESAR”

Jangan biarkan kotoran-kotoran kecil menumpuk dan meredupkan cahaya batinmu
Kuatkan dirimu
Itulah jihadmu
Di sini, kami selalu berdoa dan mendukungmu.
KARENA KAMU TIDAK BERJUANG SENDIRIAN

Dalam munajatku
Aku berharap agar Allah berkenan mempertemukan kita.
Dan kudapati engkau
Adalah kawanku yang tetap bersahaja
Kawanku yang sederhana
Kawanku, yang jika aku melihatmu, hatiku langsung memuji kebesaran Illahi
Jika aku mengingatmu, muncul kekaguman akan kemuliaan akhlakmu

Jika bersalaman denganmu
Kurakan tangan yang mampu menolak tumpukan berlian yang membakar
Tangan yang mampu menampik emas yang membara
Dan tangan mujahid yang akan mewangi di surga

Moga Allah berkenan mengabulkan harapan ini……




ini untuk mengingatkan dan menguatkan diriku pribadi dan semoga bermanfaat buat temaman-teman semua.. Read More......

Just Say, ”STOP” (inikah cinta???)

Ternyata telpon-telponan tiap hari itu megasyikkan juga. Apalagi yang telpon adalah seorang wanita/cewek/akhwat atau apapun sebutannya. Dari ujung telpon terdengar suara lembut, manja, lucu, dan ngangenin. Itulah tabiat laki-laki yang bergejolak hatinya. Tiap hari, ada saja hal yang diomongin. Dari hal sepele sampai hal yang tidak penting, tetapi semua itu menjadi berkesan dan membuat suasana jadi berwarna.

Mungkin itulah kondisi yang kualami beberapa hari ini. Kejadian ini bermula ketika beberapa hari setelah aku menjalani Diklat Kesamaptaan (sebulan bersama Kopassus). Setelah satu bulan lebih aku terkungkung dalam suasana yang tertekan, penuh keterbatasan, dan terikat pada peraturan. Hal ini berdampak pada kondisi hatiku juga, sehingga hati ini mengalami kefuturan. Sebulan tanpa ada komunikasi dengan pihak luar membuat kerinduan hati semakin mendalam. Rindu pada orang tua, teman, sahabat, dll.
Kerinduan pada orang tua dapat terobati ketika aku pulang kampung waktu pemilu kemarin. Alhamdulillah dapat libur 4 hari, lumayan bisa silaturahmi dengan keluarga di rumah.
Hari-hari itu ada seorang akhwat yang sering mengirim SMS ke Hpku. Isinya sih biasa aja, Cuma menanyakan kabar dan kesibukan. Dalam kondisi kefuturan dan kejenuhan setelah samapta, aku membalas semua SMS itu karena aku berpikir mungkin ini saatnya aku mengobati kekeringan hatiku. Siapa tahu aku bisa ngobrol dan curhat sama dia. Ternyata kesempatan ini dimanfaatkan syetan untuk terus menggodaku. Pada dasarnya akulah yang salah. Mungkin akhwat itu menganggap hal ini adalah hal biasa, tetapi aku menganggap ini adalah hal yang ”luar biasa”.

Awalnya kami Cuma saling kirim SMS saja. Terus berlanjut ke friendster dan facebook, dan akhirnya berbincang-bincang melalui telepon menjadi rutinitas.
Ketika telepon, kami ngobrol kesana-kemari membicarakan berbagai macam hal.
Suatu hari akhwat tadi meneleponku, dia ingin menceritakan suatu hal tentang masa laluku di SMA. Dia mengingatkanku pada pengalaman cintaku ketika SMA. Alhamdulillah, sebagai lelaki normal Allah Ta’ala mengaruniakan perasaan cinta kepadaku. Tetapi Allah masih melindungiku, sehingga aku tidak pernah menyatakan rasa cintaku kepada wanita itu. Karena aku yakin jika aku mencintai seseorang, aku berusaha untuk tidak menyatakannya kepada orang yang kucintai, tetapi akan kuceritakan kepada Maha Penguasa Hati. Karena dengan kehendakNya aku bisa meraih cinta yang suci, bukan cinta yang penuh dengan nafsu duniawi.

Pernah kukatakan pada diriku sendiri,”Wahai diri, jika kau mencintai seseorang, mengadulah kepada Allah, jangan kau mengadu kepada makhluk. Karena ini adalah masalah hati. Maka mintalah kepada Sang Maha Pemilik Hati.”

Dalam obrolan yang lain, kami lebih sering membuang waktu untuk pembicaraan yang kurang bermanfaat. Walaupun waktu terbuang, tetapi aku merasakan suatu nuansa kebahagiaan dalam hatiku. Entah apakah ini suatu anugerah ataukah suatu musibah. Aku masih sulit untuk membedakannya.

Tetapi ternyata aku terbuai dan terlena, jadwal harianku kacau balau. Aku lebih sering tidur larut malam yang berakibat susah bangun Tahajud. Kerjaan tidak tenang karena selalu menanti dering telepon dan nongkrong didepan komputer untuk mengecek comment di friendster dan facebook. Amalan-amalan harianku berantakan, kepekaan sosialku menurun, dan kegigihan berjuangku menjadi anjlok. Itulah kondisiku beberapa hari lalu.

Sampai suatu ketika, aku dihadapkan pada satu kondisi yang mengharuskan aku untuk bergerak cepat. Aku mendapat amanah menjadi sekretaris suatu kegiatan daurah/training. Alhamdulillah Allah masih memberiku kesempatan untuk berkontribusi untuk kepentingan ummat. Karena sudah lebih dari satu bulan aku tidak aktif dalam kegiatan-kegiataan seperti ini. Aku kangen dengan kesibukan ekstrakurikuler semasa kuliah. Walaupun waktu terbuang, tapi waktu itu habis untuk kegiatan yang bermanfaat. Bukan habis hanya untuk bersenda gurau yang tidak jelas.
Akhirnya Allah membuka kembali potensi dan militansiku yang sekian waktu telah terpendam.

Proposal yang ditolak, survei lokasi sampai ditangkap polisi (baru kali ini aku berani memelototi polisi dengan tatapan tajam, biasa, karena polisi itu minta hal yang aneh-aneh), di lokasi survei bertengkar sama monyet (dikejar sama monyet), dan lain-lain. Itulah beberapa kejadian yang mewarnai hariku. Walaupun kelihatannya sepele, hal itu sedikit membangkitkan motivasi perjuanganku.

Akhirnya pada suatu sore sepulang dari kantor aku memberanikan diri untuk menelepon akhwat tadi. Awalnya kami berbincang-bincang seperti biasa. Sampai ditengah perbincangan, Allah mengaruniakan ide untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak aku rencanakan. Saat itu dengan nada datar dan sedikit santai aku mengatakan bahwa apa yang kami lakukan selama ini (saling telpon, chatting, SMSan) tidak baik untuk kesehatan kami. Mulai dari kesehatan telinga, kantong, sampai ke kesehatan hati. Dan kesehatan hati lah yang paling rawan, karena bisa mempengaruhi semua kehidupanku. Aku tidak menjelaskan berbagai macam hal tentang tata cara hubungan antara ikhwan dan akhwat. Karena aku yakin dia sudah tahu dan mengerti. Tetapi aku hanya mengatakan hal-hal prinsip yang dapat menyelamatkan kami berdua dari jurang fitnah dan kesia-siaan.
Aku tidak tahu apakah akhwat itu menangis atau tidak. Karena dulu aku juga pernah melakukan hal serupa, tetapi saat itu aku hanya berani mengungkapkannya melalui SMS. Dan hal itu sudah cukup untuk membuatnya menangis. Pada dasarnya aku tidak tahan melihat akhwat menangis, karena aku akan teringat kepada ibu dan kakak perempuanku.

Mengatakan hal tersebut memang berat dan butuh sedikit ”nekat” dan pemaksaan terhadap diri sendiri. Tapi Insya Allah hasil akan menghasilkan suatu ketenangan hati. Alhamdulillah, sesaat setelah kututup telepon itu, hatiku menjadi lebih tenang dan segar. Jiwaku yang semula terasa redup kini bersinar kembali. Aku bisa lebih PeDe berhadapan dengan kawan dan ikhwah yang lain. Karena beberapa hari ini aku malu jika bertemu mereka karena kondisi kefuturanku.

Aku melakukan hal itu karena berdasarkan pengalamanku juga. Aku mempunyai seorang teman kos. Dulu dia adalah seorang aktifis yang berprinsip. Tetapi setelah dia kenal dengan seorang cewek (bukan akhwat lho) dan dia terbuai, akhirnya segala macam prinsip yang dari dulu dia pegang lama-kelamaam luntur. Jadwal sholatnya berantakan, mulai jarang menghadiri kajian, tidak mengenal lagi batas pergaulan laki-laki perempuan, dan berbagai hal yang menyimpang dari prinsip keislaman.
Aku tidak ingin seperti itu. Akan menjadi sebuah penyesalan, jika kebiasan baik yang sudah kubangun sejak dahulu akan luntur dan hilang gara-gara hal yang sepele. Mumpung masih ada waktu, keberanian, dan kekuatan dari Allah, aku berusaha menyelamatkan diriku dan akhwat itu sedini mungkin agar perjalanan hidup ini tidak terwarnai oleh penyesalan yang diakibatkan karena kelalaian.

Astagfirullah al’adzim.....Ampunilah kelalaianku ya Allah...
Terima kasih Engkau masih menyelamatkan kami dari pintu kemaksiatan ini.... sebelum ajal menjemput kami...

Untuk ukhti _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
Engkau tidak bersalah, itu hanyalah kelalaian kita bersama.
Terima kasih atas cerita-ceritanya....
Terima kasih atas kenangannya...
Mohon maaf atas segalanya....

Mari kita ambil hikmahnya .... dan tetap jaga silaturahim kita....

“ ternyata Allah telah mengujiku melalui dirimu.....
dan mengujimu melalui diriku... “


Based on true story.....
Khoms, 210409 Read More......

Ga ada gunanya mengeluh…

Namanya aja kereta ekonomi. Ya, yang penting bisa nyampe tujuan dengan selamat. Molornya waktu perjalanan adalah salah satu konsekwensi yang harus ditanggung.

Suasana kusam, lusuh, dan sumpek menghiasi kereta api Brantas yang kutumpangi. Setelah kemarin liburan enam hari di rumah, sekarang saatnya berjuang lagi untuk kuliah dan menatap kegiatan-kegiatan yang sudah merindukanku.

Normalnya sih kereta itu jam 06.00 harusnya sudah sampai di Jatinegara. Tapi sekarang sudah jam 06.30 tapi masih sampai di Cikampek. Padahal nanti jam 08.00 aku ada kuliah dan dosen yang ngajar terkenal galak (kata teman-teman sih!!). kalo diperkirakan perjalanan dari cikampek ke jakarta masih 2-3 jam lagi. Waduh pasti telat hari ini.

Dalam suasana seperti inilah kesabaran, ketenangan, dan sikap khusnudzon diuji. Dalam suasana pengap, bau badan tersebar kemana-mana, kegaduhan pedagang yang berlalu lalang semakin menambah penat pikiran ini. Apalagi jika ditambah dengan beban pikiran bahwa nanti ada kuliah pagi. Wah, pikiran buntu, hati panas, badan pegal mungkin itulah yang aku rasakan. Sulit untuk berpikir positif.

Dalam hati akupun sempat merenung. Dulu aku sering membaca buku dan artikel tentang kesabaran, khusnudzon, dll. Apakah itu sudah aku implementasikan atau belum?

Mungkin melalui kejadian ini Allah Ta’ala memberikan kesempatan padaku untuk berupaya mengimplementasikan apa yang telah kupelajari. Dalam liqo’/mentoring aku sering menasihati teman-teman untuk selalu sabar. Karena aku sering menasihati, konsekwensinya aku sendiri harus bisa lebih sabar dari pada orang lain. Aku harus mencoba lebih dulu.

Dalam kondisi seperti ini, segala umpatan, kemarahan, cacian tidak ada gunanya. Toh, walaupun kita mencaci-caci sampai bibir kita dowerrr, kereta juga ga akan lebih cepat. Walaupun kita marah-marah, kereta juga ga akan bisa terbang. Walaupun kita terus memelototi rel atau ngomeli petugas kereta, kereta juga tetap seperti itu. Dan malah mungkin kita kan balik dimarahi petugas kereta itu. Jadi, nafsu apapun yang kita lakukan, baik itu marah, cacian, umpatan ataupun diam saja hasilnya juga akan sama, kereta melaju seperti biasa, tidak bertambah cepat atau menjadi lambat.

Trus akupun berpikir...

Dari pada aku marah-marah, mendingan berdzikir atau nglakuin hal-hal yang bermanfaat. Kalo tidak bisa, setidaknya tidak menimbulkan potensi dosa bagi diriku. Contohnya tidur.daripada capek-capek marah mendingan tidur. Bener ga? Apalagi kalo kita sempat berdzikir. Itu akan jauh lebih baik.

Yang bisa aku lakukan adalah hanya berharap dan berdoa pada Allah Ta’ala agar kereta bisa selamat sampai tujuan dan aku diizinkan masuk kuliah walaupun terlambat. Allah Ta’ala memberikan ujian ini pasti ada hikmah dan manfaat yang bisa aku ambil. Tidak ada sesuatu yang sia-sia dalam setiap ciptanNya. Itulah yang harus aku tamankan berkhusnudzon pada Allah Ta’ala. Tidak usah mencari-cari kesalahan orang lain. Lakukan saja yang terbaik yang bisa kita lakukan dalam kondisi seperti itu. Dalam situasi seperti ini, ilmu, pengalaman, dan nasihat yang pernah aku pelajari lebih terasa manfaatnya. Dan inilah saat yang tepat untk menerapkannya.

Dengan berbekal kesabaran dan ketenangan, akhirnya jam 08.45 kereta sampai di Jatinegara. Kupanggil abang tukang ojek yang dengan ”beringas” mengantarku ke kos. Setelah beres-beres, akhirnya jam 09.30 akupun berangkat untuk kuliah. Walaupun telat 1,5 jam, aku haruis masuk kuliah.

Kuketok pintu, kuayunkan kakiku melangkah kedalam kelas. Semua mata tertuju padaku seolah-olah mereka ingin menerkamku. Suasana hening sejenak (maklum dosennya lumayan galak). Aku langsung maju kedepan menghadap dosen. Permintaan maaf dan permohonan untuk mengikuti kuliah terlontar dari bibirku dengan susunan kata dan nada yang lembut. Hatiku deg-degan, berdebar. Pikiranku membayangkan kemungkinan terburuk. Alhamdulillah, untungnya dosen tidak marah. Itulah hikmah dan buah dari menjalin silaturahmi(relationship). Karena aku sudah lumayan kenal dekat dengan dosen itu. Sebagai konsekwensi akupun harus nyanyi lagu ”Bendera Merah Putih” dan ”Satu Nusa satu Bangsa”. Yah, setidaknya bisa membangkitkan semangat kebangkitan Nasional.....


khoms 220508

Read More......

KONTEMPLASI


Detik, menit, jam, hari berlalu begitu saja. Dia tak pernah kembali menghampiri diri. Kita diberi jatah 24 dalam sehari, tidak kurang dan tidak lebih.

Bagi orang yang aktif, mungkin 24 jam terasa sangat singkat, terasa kurang untuk melaksanakan amanah dan kewajibannya terhadap Allah Ta’ala dan bagi ummat.. Tetapi bagi orang malas, 24 jam terasa sangat lama, mereka mencari-cari aktivitas untuk menghabiskannya, baik dengan hura-hura, ngerumpi atau kegiatan yang kurang bermanfaat lainnya.

Saudaraku…

Manusia diciptakan Allah ta’ala untuk senantiasa beribadah pada Nya.

Mari kita renungkan dalam hati, apa saja yang kita lakukan hari ini?

Apakah hari ini kita sudah bermanfaat bagi orang lain?

Atau malah banyak mendzolimi teman kita?

Sudahkah Sholat fardlu engkau laksanakan? Atau engkau tinggalkan hanya karena kemalasan?

adakah peningkatan kebaikan dalam diri? Atau malah peningkatan dosa yang semakin menggunung tanpa kita sadari?

Saudaraku…

Lidah tidak bertulang, sudahkah engkau menjaganya? Berapa banyak hati yang tersayat akibat lidahmu?

Kata-kata kotor dan kasar masihkah menghiasi bibirmu yang indah itu?

Apakah engkau mulai berteman dengan syetan dengan ujub dan sombongmu? Masihkah kau pelihara iri, dengki, dan penyakit hati?

Allah Ta’ala memberikan mata yang indah padamu. Mampukah engkau menjaganya? Atau kau biarkan dia memelototi nafsu penuh dosa?

Tegakah kau makan daging saudaramu sendiri dengan Su’udzon dan Ghibah?

Apakah riya’ selalu mewarnai amalanmu? Tuluskah niatmu dan apakah Allah ta’ala berkenan menerima amalanmu?

Saudaraku…

Manfaatkanlah waktumu. Kita tidak tahu sampai kapan Allah Ta’ala memberikan jatah hidup. Bisa saja esok engkau sudah terbalut kain kafan. Tiada guna penyesalan ketika maut menjemput..

Tidak ada Injury Time dalam kehidupan.

Ya Allah….

Hanya pada Mu aku mohon ampun

Jagalah diri ini dan jauhkan dari setiap kemaksiatan yang selalu mengintai Ya allah…

Berilah hambaMu kesempatan untuk meminta maaf pada teman-teman yang telah aku dzolimi, teman-teman yang telah kusakiti. Berilah aku kesempatan ya Allah.. sebelum ajal menjemputku.

Kepada siapa lagi aku meminta pertolongan selain kepada Dzat yang Maha kuasa atas segala sesuatu?

Khom’s, 18 april 2008

Read More......

Kamis, 02 Juli 2009

Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta

Wahai pemilik nyawaku
Betapa lemah diriku ini
Berat ujian dariMu
Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan….
Baru ku sadar indah nikmat sehat itu
Tak pandai aku bersyukur
Kini, ku harapkan cintaMu



Kata-kata cinta terucap indah
mengalir berdzikir
di kidung doaku
Sakit yang kurasa
biar jadi penawar dosaku

Butir-butir cinta air mataku
teringat semua yang Kau beri untukku
Ampuni khilaf dan salah
Selama ini, ya Illahi


Tuhan………
Kuatkan aku
Lindungiku dari putus asa
Jika kuharus mati
Pertemukan aku denganMu



Muhasabah cintaku…….


(by edcoustic)


sungguh, sangat berasa mendengar untaian kata2 dalam nasyid ini ketika sedang sakit.

betapa indah nikmat sehat dari Allah yang baru bisa kita rasakan ketika sedang sakait...

doain moga cepet sembuh ya!!

sakit tu ternyata ga enak banget.... Read More......